Rabu, 31 Agustus 2016

5 Bagian Fisik Murai Batu yang Butuh Pemeriksaan

Dalam perawatan Murai Batu, ada bagian fisik yang harus kita periksa secara lebih jelas. Maksudnya, dalam proses perawatan tersebut, kita mesti mengambil Murai Batu dalam kandang agar berada di genggaman kita. Dengan demikian, pemeriksaan fisik pada Murai Batu menjadi mudah dilakukan. Perawatan ini memang tak harus setiap hari diterapkan, ada tenggang waktu 3-6 bulan baru dirasa perlu melakukannya. Meskipun begitu, ini bukan perawatan yang harus diabaikan penghobi, karena boleh jadi kealfaan kita untuk memperhatikan perawatan ini membuat kondisi Murai Batu mengalami gangguan yang fatal.

Pemeriksaan fisik seperti apa yang dimaksud? Kita mengecek bagian-bagian fisik Murai Batu untuk mengetahui ada tidaknya gejala-gejala Murai Batu menderita penyakit. Ada beberapa penyakit yang bisa diketahui gejalanya dengan memeriksa bagian fisiknya. Misalnya cacingan dan katarak. Selain itu, dengan melakukan pemeriksaan fisik, kita juga dituntut untuk membersihkan tubuh Murai Batu dari kotoran yang menempel, keberadaan kutu di tubuhnya, ataupun memotong bagian fisik Murai Batu yang sudah memanjang tapi berpotensi mengganggu aktiftasnya, seperti kuku.


Gambar 1: Pemeriksaan Fisik Murai Batu

Nah, untuk lebih jelas mengenai bagian-bagian fisik yang dimaksud, berikut ulasannya :

  • Kuku Seperti halnya manusia, kuku Murai Batu juga mengalami pertumbuhan. Jika tidak diperiksa, ukuran panjang kuku bisa mengganggu aktivitasnya. Gangguan yang biasa diterima adalah kuku sering tersangkut/nyantel pada jeruji sangkar. Murai Batu juga menjadi sulit untuk merekatkan kakinya di tangkringan kandang, karena keberadaan kukunya yang panjang mengganjal telapak kakinya untuk tersentuh tangkringan tersebut. Mengingat kuku yang semakin panjang tidak tumbuh lurus, melainkan berbelok kearah bawah, persis seperti mata pancing. Oleh karena itu, dibutuhkan pemeriksaan fisik ini untuk memotong panjangnya kuku Murai Batu yang sudah mengganggu.

  • Dada
    Bagian dada Murai Batu memerlukan pemeriksaan fisik ini untuk mengetahui ada tidaknya gejala Murai Batu mengalami penyakit cacingan. Tanda-tandanya bisa dirasakan apabila di bagian dadanya terasa semacam tulang menonjol. Tulang menonjol itu adalah bukti bahwa tubuh Murai Batu terasa semakin kurus. Itu adalah akibat dari hilangnya nafsu makan karena pengaruh terserangnya Murai Batu dengan penyakit cacingan tersebut. Bila demikian, penghobi bisa membeli obat cacing bagi Murai Batu guna membasmi penyakit itu.

  • Hidung
    Memeriksa fisik bagian hidung Murai Batu adalah untuk membersihkan kotoran-kotoran di dalamnya. Kotoran hidung yang tidak dibersihkan dalam waktu lama bisa mengganggu Murai Batu untuk bernafas. Kotoran itu bisa mengeras dan lengket, sehingga berpotensi menyumbat lubang hidung Murai Batu. Alhasil, Murai Batu kepayahan untuk menghirup oksigen. Karena itulah, tugas penghobi untuk membersihkannya. Alat yang digunakan bisa dengan bantuan tusuk gigi, tapi pembersihkan kotoran mesti dilakukan secara lembut dan hati-hati. Jangan sampai pada prosesnya menimbulkan luka di sekitaran lubang hidung Murai Batu.

  • Mata
    Mengambil Murai Batu agar berada dalam genggaman salah satu fungsinya untuk melihat secara lebih jelas kesehatan matanya. Apakah Murai Batu menunjukkan gejala terserang penyakit katarak atau tidak. Penghobi bisa mengetahui itu dari lensa mata yang tampak memiliki pola-pola berwarna putih. Gejala katarak dapat disembuhkan meskipun tidak mudah. Namun jika sudah mengalami kebutaan, maka semakin sulit mengembalikan fungsi mata Murai Batu menjadi normal. Makanya apabila telah muncul pola-pola warna putih pada lensa mata Murai Batu, sebaiknya Murai Batu untuk sementara dihindarkan dari paparan sinar ultra violet dan lingkungan yang tercemar debu.

  • Pangkal Ekor
    Pemeriksaan pada pangkal ekor Murai Batu dibutuhkan untuk melihat pertumbuhan bulu ekor Murai Batu. Kadangkala ada bulu-bulu di pangkal ekor yang lengket antara bulu di bawah dengan di atasnya. Penghobi perlu memisahkan bila menemukan kondisi bulu yang demikian, karena akan menghambat pertumbuhannya. Selain itu, ada juga bulu yang di ujungnya telah patah, namun tak kunjung jatuh atau putus. Maka tugas penghobi untuk memotong pada bagian bulu ekor yang telah rusak tersebut agar pertumbuhan ekor bisa kembali berlanjut.

Itulah bagian-bagian fisik Murai Batu yang butuh pemeriksaan. Dengan terus memperhatikan kondisi Murai Batu baik fisik maupun psikisnya adalah cara untuk menjaga kondisi Murai Batu dari berbagai gejala yang merugikan.

Oleh: Roma Doni

Sumber Tulisan:
http://muraibatuaceh.blogspot.co.id/2015/08/tips-pemeriksaan-fisik-terhadap-mb.html
Sumber Gambar:
http://merawat-burung.blogspot.co.id/2013/08/cara-mengembalikan-kondisi-ekor-murai-batu-yang-rusak.html

Selasa, 30 Agustus 2016

Manfaat Terapi Mandi Hujan Bagi Murai Batu

Selain terapi suara air, dalam dunia burung kicauan juga ada terapi jenis lainnya, yaitu terapi mandi hujan. Ternyata, mandi hujan pada burung kicauan tidak selalu berdampak buruk. Di alam liar, beberapa burung kicauan justru sangat menyukai momen tersebut. Itu bisa dibuktikan dari beberapa burung kicauan yang akan berbunyi ramai saat suasana alam menunjukkan bahwa hujan akan turun. Dengan turunnya hujan, para burung kicauan bisa bermain air hujan guna bersenang-senang sekaligus perawatan.

Melihat kondisi itu, seorang pelopor e-bird mastering Indonesia, Irvan Sadewa pernah membuat riset tentang terapi mandi hujan. Ia mengatakan, hasil terapi mandi hujan berdampak positif bagi burung kicauan, tak terkecuali Murai Batu. Dalam penjelasan ilmiah yang dilampirkannya, terapi mandi hujan bermanfaat melancarkan peredaran darah burung kicauan. Terapi ini juga sebagai bentuk latihan untuk meningkatkan antibodi burung kicauan agar bisa tahan dalam suasana yang ekstrem sekalipun.


Gambar 1: Murai Batu Mandi Hujan

Dampak positif itu bisa kita dapat asal terapi mandi hujan yang kita terapkan pada burung kicauan (dalam hal ini Murai Batu) dilakukan dengan memperhatikan banyak aspek. Aspek yang paling penting tentu saja adalah kesehatan Murai Batu tersebut. Terapi ini hanya boleh dilakukan apabila kondisi burung dalam keadaan sehat atau fit. Paling tidak ia kelihatan lincah dalam kandang, dan tidak memiliki luka fisik yang mengharuskan menghindari air agar cepat sembuh.

Aspek lainnya adalah waktu hujan turun. Terapi mandi hujan bagus dilakukan pada hujan yang turun di waktu pagi sampai siang. Sebab, dikhawatirkan apabila Murai Batu di mandi hujankan pada rentang waktu siang sampai sore, itu bisa membuatnya sakit. Mengingat pada rentang waktu itu tingkat keasaman air hujan akan tinggi. Sedangkan waktu pagi dan siang menjadi pilihan yang tepat sekalian terapi itu bisa dimanfaatkan Murai Batu sebagai bentuk penyegaran.

Perlu diingat, lama waktu terapi mandinya cukup 15-20 menit saja, atau paling lama setengah jam. Setelahnya, dalam proses pengeringan, burung cukup di angin-anginkan saja di ruang terbuka. Tidak perlu di lakukan penjemuran, sebab perubahan suhu tubuh yang teramat cepat bisa membuat tubuh Murai Batu ngedrop. Maksimal terapi mandi hujan ini dilakukan seminggu dua kali.

Hujan yang turun pun harus diperhatikan karakteristik/kondisi hujannya. Bila ternyata hujan cukup deras ditambah hembusan angin yang cukup kencang, lebih baik burung tak perlu di mandikan. Alih-alih meningkatkan antibodi Murai Batu, yang ada bisa membuat mentalnya ngedrop. Makanya, sebelum melakukan terapi ini kita harus menguasai dulu aspek-aspek penting apa yang mesti diperhatikan. Satu hal lagi yang tak boleh terlupakan adalah kondisi sangkar atau kandang Murai Batu tersebut. Pilihlah kandang dengan jeruji yang kuat, kalau bisa gunakan kandang berjeruji besi. Di takutkan, apabila menggunakan kandang berjeruji kayu yang sudah lapuk atau tidak kuat, kandang itu bisa mengalami kerusakan akibat terkena air hujan. Pasti penghobi tidak menginginkan Murai Batu kabur dari lubang-lubang kandang yang rusak karena kecerobohan kita.

Sudah banyak yang membuktikan, terapi mandi hujan bermanfaat pada burung kicauan. Ada pula yang menambahkan pada suara tetesan air hujan bisa menjadi masteran alami yang akan diserap oleh burung tersebut. Selain itu, terapi ini membuat burung kicauan cepat gacor, juga menstabilkan birahi yang tinggi akibat suhu dingin dari mandi hujan akan merendahkan tekanan birahinya. Dengan berbagai manfaat tersebut, maka bagi pemilik burung kicauan, terutama Murai Batu, terapi mandi hujan ini patut untuk dicoba.

Oleh: Roma Doni

Sumber Tulisan:
http://ringadraz.blogspot.co.id/2014/12/terapi-mandi-hujan-hasil-terapi-mandi.html
http://www.tipsburung.com/2016/04/anda-memandikan-burung-dengan-air-hujan.html
http://www.budidayakenari.com/2016/02/manfaat-mandi-hujan-untuk-kacer.html
Sumber Gambar:
https://www.youtube.com/watch?v=42v9vVdEF2Y