Senin, 16 Februari 2015

Memaksimalkan Volume Kicauan Murai Batu

Bagi burung kicauan, termasuk Murai Batu kemampuan suara kicauannya menjadi salah satu tolak ukur yang sangat penting. Apalagi bagi Murai Batu yang ingin diikutsertakan dalam sebuah lomba. Tentu hal yang menjadi aspek penilaian utama para juri lomba adalah suara kicauannya. Biasanya poin-poin yang akan dinilai oleh para juri yakni melihat dari segi variasi kicauan yang dikeluarkan, merdu tidaknya kicauannya, dan kegacoran Murai Batu saat lomba.

Semua poin-poin di atas tidak akan ada artinya jika Murai Batu yang dilombakan memiliki volume suara yang pelan. Apalah jadinya kemampuan suara kicauan yang handal tetapi tidak diiringi dengan kekuatan volume suara. Juri lomba pun akan sulit menilai karena suara kicauan yang dikeluarkan tidak kedengaran dikarenakan tertutupi oleh suara-suara kicauan dari burung yang lain. Di sinilah kita menjadi sadar betapa pentingnya kekuatan volume suara pada burung kicauan, dalam hal ini Murai Batu.

Perlu diketahui, kekuatan (volume) suara yang dihasilkan oleh Murai Batu bisa berbeda-beda. Tergantung dari kemampuan pita suara yang dimiliki. Sehingga Murai Batu yang menghasilkan suara yang merdu dan kuat, itu berarti burung tersebut dasarnya memiliki pita suara yang bagus. Begitu juga sebaliknya.

Akan tetapi, pada Murai Batu yang memiliki volume suara yang pelan, ada perawatan yang bisa diterapkan untuk coba memaksimalkan volume suaranya tersebut. Karena kadangkala, Murai Batu yang bervolume suara pelan itu bukan karena pita suara yang dimilikinya tidak bagus, tetapi karena rasa malas/enggan untuk mengeluarkan volume suara yang tinggi/kuat.


Gambar 1. Murai Batu berkicau

Berikut tips perawatan dalam upaya memaksimalkan volume kicauan Murai Batu :

  • Setiap pagi harus dilakukan pengembunan pada Murai Batu yang ingin dimaksimalkan volume suara kicauannya. Antara jam 6 – 7 pagi. Akan tetapi jika kondisi udara terlalu dingin, misalnya baru habis hujan, sebaiknya hari itu urungkan untuk melakukan pengembunan. Menghindari Murai Batu agar tidak terganggu kesehatannya.

  • Setelah dilakukan pengembunan, tentu perawatan selanjutnya yaitu penjemuran jangan sampai dilewatkan. Tujuannya untuk menjaga keseimbangan suhu tubuh Murai Batu dari yang semula dingin akibat terkena embun, lalu coba dihangatkan kembali melalui penjemuran. Pun demikian penjemuran tidak perlu terlalu lama, cukup 30 menit saja, dan waktu paling lama yaitu 1 jam. Itu juga harus dilihat jam-jam melakukan penjemuran yang baik, tidak boleh lewat dari jam 10 pagi.

  • Tahap ketiga, Murai Batu harus dimasukkan pada kadang umbaran. Jika anda tidak punya, penting rasanya untuk anda buat. Dengan kandang umbaran akan membuat burung menjadi lebih aktif, ketimbang ditaruh dalam sangkar dengan ruang yang sempit. Pada kandang ini, upayakan suhu di sekitar terjaga (sejuk), tidak panas, dan ditempatkan pada tempat yang terbuka.


    Gambar 2. Kandang Umbaran

  • Pemandian pada Murai Batu juga perlu dilakukan pada siang hari. Apabila Murai Batu sudah terbiasa mandi dengan sendirinya dalam keramba, tentu merupakan hal yang sangat bagus, anda tinggal menyediakan keramba tersebut pada kandang umbaran tadi.

  • Untuk meningkatkan kualitas suara tidak terlepas juga dari faktor pakan yang anda berikan. Pakan-pakan olahan dalam proses ini ditunda untuk tidak diberikan pada Murai Batu, berikan ia pakan alami yang kaya vitamin dan bergizi baik, dalam hal ini direkomendasikan untuk memberikannya pakan kroto.

Dalam masa perawatan tersebut sebisa mungkin hindari Murai Batu untuk mendengar suara kicauan dari burung sejenis ataupun dari kicauan burung lainnya. Terapkan langkah di atas secara tekun dan rutin, biasanya dalam jangka waktu satu bulan akan mulai terlihat perubahan pada volume suara kicauannya. Untuk memancing Murai Batu berkicau, boleh diperdengarkan melalui kicauan Murai Batu yang diputar pada perangkat elektronik milik anda.

Oleh : Roma Doni

Sumber Referensi :
1. http://muraibatu.info/2014/10/ask-bagaimana-meningkatkan-volume-kicau-burung-murai-batu/

Sumber Gambar :
1. http://kicaumaniapacitan.blogspot.com/2013/05/cara-mengatasi-suara-serak-pada-murai.html
2. http://omkicau.com/2014/07/19/kreasi-kandang-umbaran-murah-meriah/

Kamis, 29 Januari 2015

Menguak Kebenaran Mitos Murai Batu

Saking terkenal dan istimewanya burung Murai Batu, kerap memunculkan mitos-mitos yang berkembang di masyarakat. Di mana mitos-mitos tersebut sering dijadikan acuan dalam memilih Murai Batu. Padahal kebenaran akan mitos itu masih diragukan adanya. Namun sebagaimana masyarakat Indonesia yang masih berpegang teguh dengan adat-istiadat tradisi tentunya keberadaan mitos-mitos itu masih tetap dipercaya.

Ada beberapa mitos Murai Batu yang berkembang, diantaranya : mitos Murai Batu berkaki hitam yang dipercaya memiliki mental tarung yang tinggi, mitos Murai Batu ekor bercabang yang dipercaya berkarakter sulit jinak atau susah diatur, mitos Murai Batu berkepala kotak yang dipercaya berkarakter sangat cerdas. Mitos-mitos ini tentunya hanya anggapan semata yang sifat kebenarannya hanya sepihak dan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.

Adapun jika kemudian mitos-mitos tersebut ada yang benar atau terjadi pada salah seekor murai batu tentunya itu hanya sekedar kebetulan belaka. Tidak langsung otomatis akan berlaku pada semua Murai Batu yang memiliki ciri-ciri sesuai dengan mitos yang disebutkan. Oleh karenanya, beberapa mitos yang berkembang sering menemui titik buntu ketika ternyata apa yang disebutkan mitos yang ada itu tidak sesuai dengan kenyataannya. Pada artikel kali ini, akan menguak kebenaran dari mitos Murai Batu yang berkembang di masyarakat :

  • Mitos Murai Batu kepala kotak berkarakter lebih cerdas
    Perlu diketahui, bentuk kepala tidak bisa menjadi ukuran akan kecerdasan burung tersebut. Yang menentukan akan kecerdasan itu adalah volume otak. Semakin besar volume otak burung maka HVC (High Vocal Center) yang terkandung di dalamnya juga akan lebih besar. HVC inilah yang berperan penting sebagai faktor yang menentukan kecerdasan seekor burung.
  • Mitos Murai Batu ekor cabang memiliki karakter sulit jinak, susah diatur, dan tidak stabil
    Mitos ini juga tidak benar adanya. Pada dasarnya karakter sulit jinak, susah diatur, dan tidak stabil itu memang sudah menjadi karakter yang umum/bawaan pada Murai Batu. Apalagi jika Murai Batu tersebut adalah hasil dari penangkapan liar. Sehingga yang membedakan karakter Murai Batu yang satu dengan yang lain adalah akumulasi dari pola perawatan, ditambah usia burung, pelatihan atau pemeliharaan, dan bakat.
  • Mitos Murai Batu berkaki hitam dipercaya memiliki mental tarung yang tinggi
    Sama dengan penjelasan sebelumnya, warna kaki juga tidak memiliki pengaruh terhadap mental atau apapun itu. Segala hal yang berkaitan dengan mental burung, tidak bisa terlepas dari pola perawatan, latihan, usia, dan bakat. Kalau mental tarung Murai Batu yang anda miliki sangat lemah, pasti karena ada kesalahan dalam perawatan yang anda lakukan.
  • Mitos Murai Batu berbadan besar memiliki kemampuan berkicau yang merdu dan kuat
    Kemampuan berkicauan murai batu tidak ditentukan oleh ukuran tubuhnya, besar atau tidak. Melainkan dipengaruhi oleh organ-organ pendukung, terutama kapasitas air sac (kantung udara), juga kemampuan pita suaranya. Jika organ kantung udara dalam tubuh burung tersebut besar, maka akan mampu mengeluarkan volume suara kicauan yang kuat dan panjang. Begitu juga jika burung tersebut memiliki pita suara yang baik, jelas suara kicauannya akan merdu pula.
  • Mitos Murai Batu berleher tebal memiliki volume suara yang tinggi
    Kalau mitos ini sebenarnya tidak cenderung salah, karena leher yang tebal dan padat berisi memang mendukung Murai Batu akan volume suara kicauan yang lebar. Akan tetapi juga bukan suatu kesimpulan yang pasti jika semua Murai Batu berleher tebal, suara kicauannya akan bervolume tinggi dan kuat.
  • Mitos Murai Batu bermata melotot dipercaya mudah beradaptasi
    Jelas saja, mitos ini sangat tidak benar. Lagi pula pertanyaannya bisakah kita secara kasat membedakan mata melotot pada Murai Batu mana yang tidak, tentu sulit. Jika Murai Batu yang anda miliki ternyata mudah beradaptasi, bisa saja itu karena perlakuan anda yang sangat baik pada Murai Batu itu, dan didukung pula oleh suasana lingkungan yang nyaman.
  • Mitos Murai Batu berparuh pendek dan tipis, berkarakter rajin berkicau dan suara-suara kicauannya melengking
    Ini juga mitos yang belum tentu kebenarannya. Karena kebanyakan struktur paruh yang bagus itu, apabila dengan ciri-ciri : paruh berukuran sedang, pangkal paruh lebar, dan paruh paruh lurus. Paruh yang berciri seperti ini cenderung mampu membawakan suara kicauan dengan merdu dan baik.

Demikianlah pembahasan tentang kebenaran mitos-mitos Murai Batu yang berkembang di masyarakat. Semoga ulasan ini menyadarkan penghobi untuk tidak terlalu menjadikan mitos-mitos sebagai patokan satu-satunya untuk menilai kemampuan Murai Batu.

Oleh : Roma Doni
Referensi :
1. http://komunitasblacktail.blogspot.com/2012/02/mitos-dan-anggapan-salah-seputar-burung.html
2. http://www.muraibatu.link/2013/05/beberapa-mitos-mengenai-burung-murai.html