Sabtu, 11 Januari 2014

Karakteristik Murai Batu Menurut Habitatnya

Dalam ilmu genetika mungkin Anda pernah mendengar bahwa fenotipe (sifat yang tampak) pada makhluk hidup dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu:

  • Genotipe (sifat tidak tampak) yang diturunkan oleh induk (tetuanya)
  • Lingkungan atau habitat di mana makhluk tersebut hidup.

Nah, hal ini juga berlaku pada Murai Batu (MB). Habitat atau lingkungan ikut berpengaruh terhadap fenotipe Murai Batu. Sehingga, kita bisa menemukan karakteristik yang berbeda antara murai batu yang hidup di habitat satu dengan habitat lainnya.

Salah satu artikel di indonesiamuraibatu.blogspot.com memuat tentang karakteristik Murai Batu berdasarkan habitatnya. Ternyata terdapat perbedaan yang sangat jelas antara Murai Batu yang hidup di wilayah pesisir dengan Murai Batu yang hidup di daerah ngarai ataupun pegunungan. Berikut adalah ulasannya:

Murai Batu Pesisir

Murai Batu yang hidup di kawasan pesisir memiliki karakteristik fisik sebagai berikut:

  • Postur tubuh agak ramping dengan ekor berukuran sedang
  • Bulu dada kurang tebal.
  • Suara isian alamnya kurang
  • Fisik cenderung lebih lincah dan kuat

Murai Batu pesisir ini disenangi oleh para penggemar burung berkicau (kicaumania) karena terkenal tidak rewel dan cenderung mudah perawatannya. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh faktor alam yang membentuk fisik dan mental Murai Batu ini menjadi lebih tangguh. Murai Batu yang hidup di daerah pesisir sudah terbiasa berhadapan dengan lingkungan yang sulit (kawasan tebing-tebing di daerah pesisir), sumber pakan yang terbatas, tingkat persaingan yang keras dan berhadapan dengan predator yang siap memangsanya. Sehingga, secara alami Murai Batu Pesisir ini memiliki mental yang bagus, tidak rewel dengan makanan dan cepat beradaptasi dengan lingkungan manusia.

Dari segi fisik, Murai Batu Pesisir juga dikenal cukup tangguh. Pengalaman hidup di daerah pesisir yang keras, sering terbang menantang angin dan melewati tebing-tebing terjal membuat otot-otot dan daya tahan tubuh Murai Batu ini lebih kuat dan cekatan. Sehingga perawatannya menjadi lebih mudah.

Murai Batu Pegunungan Lebat

Murai Batu yang hidup di habitat pegunungan lebat memiliki karakteristik fisik sebagai berikut:

  • Postur tubuh umumnya besar dengan ekor yang bervariasi
  • Terkenal galak dan ganas
  • Suara isian alamnya sangat beragam dan luar biasa.

Murai Batu dari daerah pegunungan lebat ini merupakan jenis Murai Batu favorit kicaumania untuk dimaster. Lingkungan hutan yang ramai dengan suara isian alam (suara burung-burung hutan, jangkrik, monyet, siamang dan suara-suara alam lainnya) ikut berperan dalam membentuk kemampuan berkicau Murai Batu ini.

Namun, sayangnya mendapatkan Murai Batu jenis ini sekarang tidak lagi mudah. Mengingat, saat ini sangat sulit menemukan hutan lebat dengan maraknya perambahan hutan di berbagai daerah. Populasi Murai Batu semakin hari semakin menipis. Perburuan dan penebangan hutan secara bebas merupakan dua faktor utama menipisnya populasi Murai Batu ini di alam.

Dari segi kemampuan berkicau Murai Batu dari habitat pegunungan atau hutan lebat memang lebih unggul. Sehingga selalu menjadi favorit di kalangan kicaumania. Akan tetapi Murai Batu jenis ini juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya yaitu:

  • Sedikit liar dan sulit beradaptasi dengan lingkungan manusia
  • Rewel dan sulit makan
  • Perlu perawatan ekstra karena Murai Batu jenis ini terbiasa hidup di lingkungan alam yang tenang jauh dari kebisingan dan persediaan makanan alami yang melimpah.

Murai Batu Ngarai

Murai Batu yang hidup di habitat kawasan air terjun atau ngarai memiliki karakteristik yang sangat khas, diantaranya yaitu:

  • Karakternya tenang dan memiliki pandangan yang teduh
  • Memiliki suara alam yang khas (menderu dan mendesir)
  • Postur tubuh ramping dan warna bulu agak pudar.

Oleh: Neti Suriana
Sumber:
http://indonesiamuraibatu.blogspot.com/2012/04/ciri-kelebihan-mb-menurut-daerah.html


Related Posts :