Kamis, 19 Juni 2014

Solusi Ketika Murai Batu Betina Mengalami Egg Binding

Kondisi yang tak terduga kadangkala dapat menyerang Murai Batu. Pada Murai Batu Betina misalnya, ketika sedang bertelur bisa berpotensi mengalami suatu keadaan yang tidak normal seperti Egg Binding. Tahukah anda istilah Egg Binding?

Egg Binding adalah keadaan di mana Murai Batu Betina kesulitan dalam mengeluarkan telurnya, bisa karena telur terlalu lembek, lengket atau terjepit dengan dinding-dinding saluran reproduksi dan menyebabkannya sulit untuk keluar.

Bagi para penangkar Murai Batu, kondisi seperti ini tentu merupakan hal yang sangat sulit. Oleh karena, egg binding tidak hanya berpotensi menggagalkan anak baru yang dapat dihasilkan, namun lebih parah daripada itu juga berpeluang mengakibatkan kematian bagi Murai Batu indukan tersebut.

Penyebab dari Murai Batu Betina dapat terkena Egg Binding bisa dikarenakan oleh banyak faktor. Murai Batu betina yang di masa pemeliharaannya sedari kecil hingga dewasa memperoleh asupan gizi yang kurang (vitamin, kalsium) dan tidak seimbang berpotensi besar akan mengalami Egg Binding. Adanya infeksi pada saluran reproduksi dan Murai Batu betina yang memiliki ukuran tubuh berlebih/gemuk (obesitas) juga rentan menderita Egg Binding.

Namun adakalanya memang Egg Binding terjadi karena faktor yang tak terduga, misalnya telur yang dihasilkan berukuran lebih besar, lebih keras, atau bahkan lebih lembek dari biasanya.

Murai Batu Betina yang terjangkit gejala Egg Binding bisa kita amati tingkah lakunya di masa ia mulai bertelur. Biasanya Murai Batu akan menunjukkan yang depresi, suka mengepak-ngepakkan sayap, nafsu makan menurun, jarang duduk di tangkringan, kotoran yang dikeluarkan sedikit, dan nafas tersengal-sengal.



Secara kasat mata kita dapat mengamati pada bagian kloaka (anus) yang membengkak, akibat tekanan dari telur. Dan pada beberapa hari sebelum, waktu yang diperkirakan Murai Batu tersebut akan mengeluarkan telurnya tubuhnya akan gemetaran karena mencoba berusaha mengeluarkan telurnya yang macet tersebut.

Jika kita menjumpai gejala-gejala seperti itu maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah segera amankan burung ke tempat yang bersuhu hangat dan tenang. Untuk memberikan efek hangat tersebut, anda bisa memasangkan lampu pijar di atas atau daerah dekat sekitarnya. Kemudian berikan tambahan kalsium, vitamin (A,D,E,) untuk membantu proses pengeluaran telur yang macet.

Setelah itu pada bagian area kloaka (anus) oleskan minyak sayur di sekitarnya. Terakhir upaya yang dapat anda lakukan dengan memberikan terapi pijatan pada bagian perut dengan gerakan mendorong telur keluar. Terapi pijatan itu haruslah dilakukan dengan pelan dan penuh hati-hati, sebab apabila telur pecah di dalam maka akan beresiko besar terhadap kematian Murai Batu tersebut.

Jika melihat cara pengobatan yang dilakukan di negara barat sana, sebenarnya resiko kematian burung yang menderita Egg Binding bisa dikatakan relatif kecil. Semua itu tentunya tidak terlepas dari pengobatan yang telah menggunakan peralatan-peralatan canggih.

Sebut saja dalam mendeteksi terjangkit tidaknya seekor burung betina penyakit egg binding, sudah menggunakan Sinar X yang mampu mendiagnosis secara lebih akurat mengenai ada tidaknya telur lengket. Jadi tidak perlu menduga-duga atau melihat indikator gejala.

Tetapi bagaimana pun juga, secanggih-canggih pengobatan yang dilakukan, mencegah Murai Batu dari segala penyakit tetap lebih baik. Pada kasus Egg Binding ini, ada baiknya kita lebih memperhatikan pemberian asupan gizi yang tepat pada Murai Batu, terutama pemberian pakan kaya kalsium dan vitamin A, D juga vitamin E.

Oleh : Roma Doni
Sumber Gambar dan Referensi Tulisan : http://omkicau.com/2011/04/26/egg-binding-atau-telur-lengket-sering-jadu-penyebab-indukan-betina-tewas/


Related Posts :