Kamis, 31 Juli 2014

Murai Batu Blorok dan Penyebabnya - 2

Pernahkah anda melihat Murai Batu dengan tampilan seperti pada gambar di atas? Murai Batu tersebut dikenal oleh para penghobi dengan sebutan Murai Batu Blorok. Saat ini fenomena blorok tidak hanya ditemukan pada burung kicauan Murai Batu saja, burung kicauan lain seperti burung kacer, kenari, love bird, cucak rowo juga ada yang berjenis blorok. Bahkan jenis hewan unggas lainnya yaitu ayam juga ada yang berjenis blorok.

Seperti yang tertulis pada artikel omkicau.com mengenai misteri murai batu blorok, disebutkan ada 4 faktor penyebab Murai Batu bisa menjadi Murai Batu blorok yaitu : malnutrisi, depigmentasi, mutasi dan crossing (perkawinan silang). Berikut masing-masing penjelasannya :

Depigmentasi

Depigmentasi dapat dikatakan juga kehilangan pigmen. Pigmen ini berpengaruh dalam menentukan warna bulu pada burung. Kehilangan pigmen ini biasanya disebabkan oleh dua faktor yaitu malnutrisi dan proses metabolisme yang terganggu.

Pada Murai Batu yang mengalami blorok, yang terjadi adalah akibat kehilangan pigmen berupa zat melanin. Zat melanin pada Murai Batu berperan dalam pemberian warna hitam, cokelat atau cokelat kemerahan. Pada manusia, zat melanin inilah yang berperan dalam menentukan warna kulit, rambut serta yang melindungi kulit terhadap radiasi ultra violet.

Biasanya hal ini disebabkan akibat proses molting yang sangat lama, sehingga membuat pigmen asli (melanin) pada tubuh burung menjadi hilang. Lamanya proses molting tersebut salah satu penyebabnya adalah akibat gangguan metabolisme pada Murai Batu tersebut.

Maka ketika zat pigmen melanin tersebut hilang pada proses moltingnya, bagian-bagian yang mendasari tugas pewarnaan dari zat pigmen melanin sebelumnya seperti pada bagian dada, sayap atau ekor akhirnya menjadi berwarna putih.


Murai Batu Blorok

Mutasi

Perubahan warna bulu pada Murai Batu juga dapat disebabkan oleh mutasi yang tak sengaja yang dialaminya. Mutasi merupakan suatu perubahan pada materi genetik berupa DNA yang ternyata dapat diwariskan kepada keturunan, sehingga menghasilkan varian atau spesies yang sedikit berbeda tetapi memiliki kemiripan dengan fisik dan sifat yang dibawa oleh gennya.

Biasanya mutasi yang tak sengaja ini dipengaruhi oleh lingkungan dan apabila Murai Batu yang mengalami mutasi yang tak sengaja ini kawin dengan murai batu normal maka akan kemungkinan besar anakan yang dihasilkan adalah Murai Batu blorok, konon lagi ketika sesama Murai Batu yang mengalami mutasi tak sengaja dikawinkan.

Crossing

Crossing atau perkawinan silang adalah usaha yang secara sengaja dilakukan penghobi dengan mengawinkan dua jenis burung dalam spesies yang sama, atau bahkan dua spesies berbeda namun memiliki hubungan kekerabatan sangat dekat.

Tujuan dari melakukan crossing ini tentunya untuk mendapatkan keturunan yang berbeda dari kedua indukannya. Ada juga memang yang secara sengaja karena ingin memperoleh anakan Murai Batu yang blorok. Sehingga mengawinkan indukan Murai Batu blorok dengan yang normal tetapi dengan kemampuan kicauan yang bagus, sehingga anakan yang dihasilkan nantinya diharapkan tampilannya berupa Murai Batu Blorok dengan kualitas kicauan Murai Batu petarung.

Itulah penjelasan dari keempat faktor Murai Batu bisa mengalami blorok. Dan mengenai kemampuan antara Murai Batu blorok dengan Murai Batu normal lainnya sebenarnya kemampuan dasar yang dimiliki sama saja. Bukan berarti kualitas kemampuan kicauan Murai Batu Blorok lebih buruk dibanding Murai Batu normal lainnya ataupun sebaliknya Murai Batu normal lebih baik ketimbang Murai Batu blorok. Tentu anggapan ini sangatlah keliru, salah satu yang menjadi pembeda kemampuan Murai Batu adalah tentang bagaimana anda merawat dan melatihnya.

Oleh : Roma Doni
Referensi gambar : http://www.olx.co.id/iklan/murai-batu-asli-medan-super-blorok-59504089.html
Referensi tulisan : http://omkicau.com/2013/01/21/misteri-murai-batu-blorok-2-antara-malnutrisi-depigmentasi-mutasi-dan-crossing/


Related Posts :