Senin, 04 Agustus 2014

Penjelasan Seputar Penyebab Murai Batu yang Mengalami Serak -1

Performa suara kicauan Murai Batu akan menjadi turun drastis apabila Murai Batu tersebut sedang mengalami gangguan serak pada tenggorokannya. Jelas saja hal itu akan terjadi sebab suara kicauan burung yang serak pastilah mengurangi kemerduan bunyi kicauannya.

Jika suara kicauan sebelumnya bernada tinggi maka berubah menjadi rendah dan tidak jernih (tersendat-sendat). Volume suaranya terdengar pelan dan parau, Murai Batu pun biasanya akan jarang berkicau karena ketidaknyamanan yang dirasakannya. Lama-kelamaan bisa saja gangguan serak ini menyebabkan Murai Batu untuk macet berbunyi.

Kebanyakan penyakit serak ini dianggap sepele, karena walaupun Murai Batu terserang penyakit serak tetapi hal itu tidak akan memengaruhi pada performa kondisi fisik Murai Batu. Burung akan tetap lincah dan dapat beraktivitas seperti biasa. Begitulah anggapan kebanyakan orang.

Tentu anggapan ini ada benarnya, karena penyakit serak hanya tampak memengaruhi performa kicauannya saja, namun bukan berarti kita harus membiarkan Murai Batu yang mengalami serak tanpa ada upaya untuk mengobatinya. Seperti yang sudah disebutkan pada paragraf sebelumnya, lama-kelamaan Murai Batu akhirnya akan macet bunyi. Jika sudah demikian, tentu lain lagi ceritanya.

Penyakit serak ini juga bukan penyakit yang dapat sembuh secara total, perlu waktu yang tidak singkat untuk memulihkan performa suara kicauannya seperti semula. Jadi melihat betapa pentingnya menghindari Murai Batu kita agar tidak terserang penyakit serak ini, maka perlu kita ketahui sebab-sebab yang mengakibatkan Murai Batu bersuara serak.



Nah, sebab-sebabnya adalah sebagai berikut :

  • Penjemuran Murai Batu terlalu lama

    Penjemuran memang terbukti bermanfaat baik untuk kesehatan maupun sebagai pendongkrak Murai Batu supaya rajin berkicau, tapi itu didapat pada penjemuran yang benar. Waktu penjemuran yang terlalu lama akan membuat Murai Batu dehidrasi. Keadaan ini menyebabkan fisik Murai Batu menjadi lemah, di sinilah Murai Batu akan rentan terserang penyakit. Salah satunya terserang virus yang dapat mengakibatkan gangguan pada pernapasan burung.

    Penjemuran yang benar itu dalam rentang waktu dari jam 8.00-11.00 pagi. Usahakan dengan durasi waktu menjemur satu jam. Lebih baik durasi penjemuran itu lebih cepat ketimbang dilamakan, hal ini untuk mencari aman dari akibat penjemuran yang terlalu lama.


    Murai Batu sedang berjemur

  • Murai Batu mengonsumsi kroto basi

    Seperti manfaat menjemur, kroto juga sudah diakui akan kandungan gizi di dalamnya. Dan pakan ini pun menjadi pakan favorit sebagian besar burung kicauan tak terkecuali Murai Batu. Karena melihat peluang ini, di pasaran sendiri banyak oknum yang dengan sengaja mencampurkan kroto yang sudah basi dengan kroto yang masih bagus untuk menghindari adanya kerugian penjualan. Sehingga di sinilah letak bahayanya Murai Batu untuk mengonsumsi kroto tersebut.

    Jangan sampai Murai Batu mengonsumsi kroto yang sudah basi itu, sebab pada kroto basi sering terdapat mikroba (bakteri) negatif yang tumbuh. Jika kroto basi sudah terlanjur termakan oleh burung, maka peluang mikroba negatif tadi untuk tumbuh dalam tubuh Murai Batu semakin besar. Apalagi jika sudah berkembang biak, maka kemungkinan bakteri tadi akan menyebar ke seluruh jaringan tubuh, termasuk pada bagian pernapasan dan pita suaranya.


    Bentuk kroto

    Menandai kroto yang sudah basi bisa dilihat dari warna yang sudah agak layu kekuningan dan bau yang tidak sedap menyengat, biasanya bentuk krotonya sudah pecah-pecah dan basah.

  • Akibat sirkulasi udara yang buruk

    Faktor sirkulasi udara juga memengaruhi kualitas suara kicauannya. Misalnya anda meletakkan sangkar pada ruangan yang sangat pengap, kurang ada ventilasi udara, pastilah udara di sekitar ruangan tersebut panas dan kering. Kualitas udara (oksigen) yang kurang baik seperti itu bisa menimbulkan gangguan pada pernapasan Murai Batu. Biasanya Murai Batu akan megap-megap dan akhirnya suaranya pun menjadi serak.

    Untuk menyiasati permasalahan ini, ada baiknya peletakan sangkar dilakukan di luar ruangan (outdoor). Jika pun harus di dalam rumah, karena misalnya di luar sedang hujan atau takut Murai Batunya diambil orang karena tidak ada yang menjaga, sebaiknya ditaruh pada tempat berventilasi yang cukup.

[bersambung..]

Oleh : Roma Doni
Sumber Gambar :
Pic 1 : http://ocehankenari.blogspot.com/2013/10/perlukah-murai-batu-mandi.html
Pic 2 : http://www.kicaumania.or.id/forums/showthread.php?67103-B-Lelang-Murai-Batu-Larwo-B
Pic 3 : http://www.suarakicauburung.com/merawat-kroto-agar-tetap-segar-untuk-burung/
Sumber Referensi :
https://www.facebook.com/notes/hobi-burung-kicauan-dan-penangkaran/deteksi-dini-terhadap-kondisi-murai-batu-yang-serak-omkicaucom/10151372276541400
http://sklbirdfarm.com/2012/08/25/penyebab-dan-mengatasi-murai-batu-yang-terserang-serak/


Related Posts :