Jumat, 19 Agustus 2016

Bagaimana Mencegah Risiko Kematian Murai Batu Bakalan?

Besarnya risiko kematian pada Murai Batu Bakalan memang harus menjadi perhatian tersendiri bagi penghobi yang ingin memeliharanya. Dengan begitu, penghobi sudah mempersiapkan langkah-langkah yang tepat yang harus dilakukan ketika membeli Murai Batu Bakalan tersebut. Meskipun yang namanya kematian pada kenyataannya tak bisa dihindari, namun paling tidak, dengan melakukan upaya-upaya pemulihan, harapannya Murai Batu Bakalan bisa terus hidup sampai dewasa.

Nah, mengenai apa-apa saja yang perlu diperhatikan dalam upaya meminimalisir resiko kematian Murai Batu Bakalan, maka kita perlu menyelaraskannya dengan faktor apa yang menjadi penyebabnya. Pada artikel sebelumnya, telah dibahas faktor di balik risiko kematian Murai Batu Bakalan, diantaranya: Mentalnya yang masih stres, penangkapan Murai Batu Bakalan menggunakan pancingan, kotoran yang menempel di bagian kolaka (dubur), dan faktor cuaca yang ekstrem.


Gambar 1. Risiko Kematian Murai Batu Bakalan

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka kita perlu mencari tahu bagaimana mengatasi setiap permasalahan yang ada. Tujuannya agar penghobi bisa menutup kemungkinan bahwa risiko kematian Murai Batu Bakalan bukan disebabkan oleh faktor-faktor umum yang banyak terjadi. Bagaimana pun pengalaman-pengalaman dari penghobi sebelumnya harus bisa kita jadikan pelajaran dalam pemeliharaan Murai Batu Bakalan yang kita miliki.

Pertama, mengatasi mental Murai Batu Bakalan yang Stres. Umumnya yang mempengaruhi mental Murai Batu Bakalan stres dipengaruhi oleh faktor yang langsung maupun yang tidak langsung. Seperti perlakuan yang kasar, kelelahan, lingkungan yang tidak kondusif, sering mendapat ancaman dari hewan di sekelilingnya (burung, kucing atau ayam), dan suhu yang tinggi. Maka, sebagai penghobi kita harus bisa menghindari faktor-faktor penyebabnya stres tersebut. Murai Batu Bakalan harus dikondisikan dalam ruangan yang aman dan nyaman. Rincian bagaimana perawatan yang baik memulihkan mental Murai Batu Bakalan yang stres akan dibahas khusus di artikel selanjutnya.

Kedua, perihal mengatasi Murai Batu Bakalan hasil pancingan. Butuh waktu yang lama untuk mengobati luka di rongga mulut pada Murai Batu Bakalan hasil pancingan. Karena itu, sebaiknya penghobi menghindari untuk membeli Murai Batu Bakalan dari hasil pancingan. Sebab, besar kemungkinan sekalipun luka pada rongga mulutnya sembuh, kualitas kicauan yang mampu dihasilkannya tidak lagi maksimal. Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana cara mengetahui bahwa Murai Batu tersebut hasil pancingan?

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan yakni, ketika hendak membeli kita memeriksa rongga mulutnya secara langsung, apabila terdapat luka di sana, sebaiknya diurungkan saja membeli Murai Batu tersebut. Tapi kadang ada penjual yang tidak mengizinkan kita memeriksa rongga mulut secara langsung, menyiasati hal itu kita bisa menyodorkannya pakan jangkrik. Jika Murai Batu Bakalan terlihat lahap mengunyah pakannya tanpa kepayahan, berarti Murai Batu Bakalan itu bukan ditangkap melalui pancingan.

Ketiga, mengatasi faktor kematian Murai Batu Bakalan akibat tersumbat kotoran di bagian kolaka. Mengatasinya bisa dengan secara rutin memeriksa bagian kolaka Murai Batu Bakalan setiap harinya. Apabila terdapat kotoran yang menempel di bagian bulu-bulunya, penghobi bisa segera membersihkan kotoran itu sebelum kotorannya mengeras. Untuk mengurangi keluarnya kotoran berbentuk kental dan lengket, untuk sementara jangan berikan dulu pakan berbentuk voer. Sekaligus dalam masa pemulihan stresnya, pakan jangkrik dan kroto seperti yang ia dapatkan di alam liar, sangat membantu proses itu.

Keempat, mengatasi faktor cuaca ekstrem. Murai Batu Bakalan yang baru kita beli dari pasar burung atau dari pemburu harus kita tempatkan dalam ruangan yang stabil. Kemudian pemakaian kerodong sangat diperlukan apalagi ketika diketahui suhu udara sedang dingin (musim hujan). Sedangkan, ketika cuaca panas, kerodong Murai Batu boleh di lepas dan gantungkan kandangnya di tempat yang sejuk. Intinya, kita harus bisa menyesuaikan kondisi Murai Batu senyaman mungkin. Bahkan ketika suhu udara terasa sangat dingin bagi kita, pemakaian kerodong ditambah penerangan lewat lampu listrik bisa dilakukan untuk menciptakan kehangatan pada tubuh Murai Batu.

Kelima, pemberian vitamin. Murai Batu Bakalan membutuhkan tambahan vitamin untuk meningkatkan kekebalan tubuhnya. Pemberian vitamin B-Kompleks sangat disarankan dikonsumsi pada Murai Batu Bakalan di masa pertumbuhannya. Sebab, Murai Batu yang kekurangan vitamin B-Kompleks dapat menimbulkan gangguan pada saraf, yang biasanya ditandai dengan gejala kejang-kejang, lalu berlanjut pada kelumpuhan dan akhirnya mengalami kematian. Produk rekomendasi yang bisa anda gunakan seperti BirdVit dan BirdFine. Selain kelima hal di atas, sesuatu yang tak kalah penting dalam membeli Murai Batu Bakalan adalah penghobi harus melihat gerak-gerik Murai Batu tersebut dalam kandang. Pilihlah yang tampak sehat, atraktif, tatapan tajam, bulu sayap dan ekornya masih bagus, dan tidak ada cacat di bagian tubuhnya. Murai Batu yang bercirikan demikian resiko kematiannya semakin kecil.

Oleh: Roma Doni

Sumber Tulisan:
http://www.suaraburungs.com/2015/08/menghindari-resiko-kematian-murai.html
http://infomurai.blogspot.co.id/2013/03/cara-merawat-burung-murai-muda-hutan.html
Sumber Gambar:
http://www.budidayakenari.com/2015/12/upaya-mencegah-kematian-murai-batu.html


Related Posts :