Jumat, 02 September 2016

Kapan Waktu yang Tepat untuk Melombakan Murai Batu?

Pernah ada suatu kejadian di mana Murai Batu muda menjadi juara dalam ajang lomba burung kicauan. Banyak penghobi yang takjub dengan kemampuan Murai Batu muda tersebut. Sepanjang lomba, suara kicauannya mampu tampil dominan melebihi Murai Batu lain yang rata-rata berusia dewasa. Namun apa yang terjadi setelahnya merupakan di luar dugaan si pemilik. Beberapa hari setelah lomba, Murai Batu miliknya punya kebiasaan yang aneh di dalam kandang. Murai Batu muda itu menjadi suka mematuk-matuk dadanya, mencabuti bulu-bulunya, suara kicauannya terhenti, dan berujung pada kematian.

Anda mungkin bertanya-bertanya, apa sesungguhnya yang terjadi dengan Murai Batu muda itu? Keadaan itu tidak lain disebabkan oleh mental stres ditambah kondisi yang drop dialami Murai Batu muda yang belum siap diturunkan dalam ajang lomba. Tampak pemilik terlalu terburu-buru mengikutsertakan Murai Batu muda pada ajang lomba burung profesional. Sementara usia muda sangat identik dengan mental tarung yang belum matang. Jadi, bunyi kicauan yang terus menerus dikeluarkan pada ajang lomba itu, menurut pakar burung, sebagai luapan dari rasa stres dan tertekan di tengah serangan dari lawan-lawannya.


Gambar 1: Perlombaan Murai Batu

Belajar dari kejadian di atas, maka penting bagi penghobi mengetahui kapan waktu yang tepat untuk melombakan Murai Batu. Supaya penghobi tidak salah langkah ketika akan melombakan Murai Batu tersebut. Terlebih, agar Murai Batu yang telah kita latih dan siapkan sebagai petarung burung kicauan tidak mengalami nasib tragis seperti kejadian di atas. Menjawab pertanyaan itu disarankan kepada penghobi untuk melombakan Murai Batu ketika telah melewati masa mabung yang ketiga. Pada masa itu, diyakini Murai Batu muda telah berada pada kondisi mental yang matang. Masa ini (mabung ketiga) dikenal juga sebagai masa kesempurnaan bagi Murai Batu.

Meskipun mungkin kegacoran Murai Batu sangat terlihat ketika berada di mabung yang pertama dan kedua. Tapi dikhawatirkan, di saat itu Murai Batu hanya siap secara kicauan, namun belum siap secara mental tarung yang masih belum matang. Itulah yang banyak menyebabkan kejadian seperti diceritakan di alami penghobi. Murai Batu hanya gacor untuk satu kali perlombaan, setelahnya ia mengalami macet bunyi dalam waktu yang lama, atau fatalnya berakhir pada kematian.

Harus diingat, mabung ketiga yang telah dilalui Murai Batu bukan berarti lantas jika diikutsertakan dalam lomba Murai Batu tidak memiliki kemungkinan untuk stres. Kemungkinan itu tetap ada, cuma peluangnya saja yang lebih kecil dibanding saat harus dilombakan ketika Murai Batu masih mencapai mabung pertama atau kedua. Makanya pada prosesnya, latihan-latihan untuk membawa Murai Batu ke arena lomba yang kecil-kecilan (latber) sangat diperlukan untuk perkenalan gaya tarung. Selain sebagai perkenalan, juga untuk pemanasan mental.

Murai Batu yang belum pernah dibawa ke arena lomba harus sering-sering dilatih kemampuannya. Atau istilah familiarnya harus diperbanyak jam terbang. Memperbanyak jam terbang dilakukan dengan Murai Batu yang memiliki kemampuan sebaya. Jangan langsung disandingkan dengan yang profesional, sebab kemungkinan kalah mental tarung itu semakin besar. Apabila Murai Batu sedari awal sudah kalah mental, maka susah diturunkan di ajang lomba. Jika dipaksakan, justru bisa berakibat fatal bagi keberlangsungan hidupnya. Maka itu, butuh kesabaran bagi penghobi untuk melewati tahapan-tahapan perawatan Murai Batu sampai pada waktu yang tepat baginya untuk bertarung.

Demikian artikel ini, semoga bermanfaat.

Oleh: Roma Doni

Sumber Tulisan:
1. https://omkicau.com/2013/12/22/waktu-ideal-untuk-melombakan-murai-batu/
2. http://kicaukan.blogspot.co.id/2014/01/waktu-terbaik-untuk-melombakan-burung-murai-batu.html
Sumber Gambar:
1. http://www.majalahburungpas.com/liputan-event-juara/kelas-murai-batu-kinclong-di-lomba-kicauan-piala-raja-2014.html


Related Posts :